Pada suatu hari seorang ngobrol ma gue, pria berumur 60 tahun keatas. Topik yang dia obrolin adalah kebingungan beliau tentang pemilu tahun ini. Mbah-mbah ini bertanya plus sedikit beropini tentang pemilu tahun ini. Ya, dia merasa pemilu nyang mau digelar ini penuh dengan keterburuan, tergesa-gesa, pake azas pokoke terlaksana, terus punya presiden baru…
Dengan tanpa mengindahkan aspek-aspek pendukungnya., kayak sosialisasi misalnya. Kakek ini masih awam dengan istilah nyontreng alias nyentang. Dan itu terjadi pada temen-temen sebayanya, bahkan sejumlah masyarakat berbagai umur juga ngalamin hal tersebut. Dan muaknya mereka dengan janji-janji para elite politik.
Gue pun sependapat dengan opini kakek tadi. Pemilu tahun ini terlalu mementingkan kepentingan politik pribadi dan partainya. Tak ada perubahan dari ide, atopun visi – misi mereka kalo terpilih menjadi penguasa Senayan sana. Para elite politik tetep mengusung isu kemiskinan, pemberantasan korupsi sebagai topik utama meraka untuk berperang di pemilu nanti. Tapi ide-ide tesebut tidak dibarengi dengan system ato program kerja yamg jelas, kongkret, dan transparan.
Cara-cara para politikus pun masih jauh dari fair, masih banyak saling sikut dengan cara black campaign dengan saling sindir di media massa,cetak maupun elektronik, dan adu kekuatan duwit dalam mengumpulkan massa pendukung ( kalo rakyat sih seneng-seneng aja dikasih duit).
Padahal rakyat dah muak dengan hal-hal yang berbau surga, janji-janji kosong yang sering dikumandangkan para elite politik. Banyak lembaga-lembaga survey di Indonesia yang memprediksi bahwa pemilu tahun ini angka golput alias ga’ milih pada pemilu nanti akan meningkat.
Ya kalo dah gini, tinggal pinter-pinter kita aja untuk menyikapi dalam memilih pemimpin kita nanti. Yang utama adalah “ BUAT KEBAIKAN INDONESIA”……